⟵ Brilian / Blog

Lagi-lagi gagal juara

200802-img01

Arena of Valor Premier League (APL) udah selesai satu minggu yang lalu dengan Flash Wolves sebagai juaranya. Sebuah turnamen online yang sebenarnya buat “ganti” Arena of Walor World Cup (AWC) karena situasinya lagi kayak gini. Jujur, awalnya saya rasa APL ini gak bakal seru, tapi setelah beberapa hari berjalan ternyata pecah banget gila, apalagi playoffnya yang bisa dibilang sengit banget.

Sesuai judul, saya mau nulis “kegagalan” dari MAD Team dan wakil-wakil Thailand, terutama Buriram United, tapi sebelum itu saya mau bahas dikit tentang Flash Wolves.

Peringkat tiga di liga negaranya, masuk APL lewat kualifikasi tambahan, lalu performa yang biasa aja di fase grup ngebikin tim ini gak “dilihat”. Berbanding terbalik dengan MAD dan juga Buriram yang nunjukin performa gila-gilaan di fase grup. Tapi, saat banyak banget orang dukung MAD atau Buriram (termasuk saya XD) buat jadi juara, eh malah Flash Wolves. Menang lawan Talon di quarterfinal, lalu menang dengan susah payah lawan MAD di semifinal, dan main tujuh game lagi di grand final lawan Buriram, saya rasa Flash Wolves emang layak dapat piala.

Pindah ke MAD team, tim yang sebenarnya gak di kondisi terbaik karena pemainnya satu persatu pergi. Dimulai dari Benny, Winds, lalu yang terbaru—Star. Berstatus sebagai juara Arena of Valor International Championship (AIC) 2018 (saat masih j team), tentu saja MAD menjadi kandidat kuat juara AWC 2019. Tapi nyatanya kalah di grand final lawan Team Flash (bukan Flash Wolves).

Kemudian juga tampil buruk di liga yang ngebuat MAD gak bisa ikut AIC 2019. Setelah itu pun performanya gak membaik, dan cuma dapat peringkat empat di liga. Untung aja, secara “ajaib” MAD bisa main dengan rapi di kualifikasi APL, dan bahkan juga di fase grup APL. Di quarterfinal pun bisa dibilang MAD menang gampang atas Team Tlash, dan bisa “balas dendam”, tapi yaa tumbang juga akhirnya lawan “flash” di semi final. Terkadang keajaiban bisa datang dengan sekejap dan hilang dalam sekejap juga.

Lalu tim-tim Thailand, entah ini kutukan atau apa, tapi memang faktanya mereka belum pernah menang di turnamen internasional. Mulai dari mentok di quarter saat AIC 2017, kalah sama Korea (ahq) di grand final AWC 2018, tumbang di semifinal AIC 2018, tumbang lagi di semifinal AWC 2019, lalu gagal menang di grand final saat AIC 2019 lawan Team Flash. Kemudian di APL ini, mereka bisa dibilang lagi kuat banget, tapi tetep aja gak bisa. Khususnya untuk Buriram, ini kedua kalinya gagal di grand final lawan “flash”.

Mengawali fase grup dengan mulus-mulus aja, lalu melewati quarter dan semi final tanpa kesulitan yang terlalu, semuanya seakan berpikir “kutukan” itu akan hancur sebentar lagi, eh tapi tunggu dulu. Kalau dipikir kok bisa ya, padahal menurut saya liga Thailand itu paling kompetitif dibanding negara lain, tim-timnya “sehat”, pemainnya pun juga berkualitas, tapi entah kenapa, selalu saja berakhir kegagalan.

Jujur aja saya udah gak terlalu aktif main AOV, tapi yang saya rasain turnamen-turnamen AOV itu tetep aja seru banget sih, entah lokal maupun internasional. Walau banyak tim-tim dan pemain udah pergi, tapi menurut saya aroma kompetitifnya tetep sama aja. Ya moga aja kondisinya makin membaik dan AIC 2020 bisa sesuai rencana.